Pages

Rekomendasi

Jumat, 14 Oktober 2011

Dinamika Kelompok

ü Pengertian Dinamika Kelompok

Pengertian dinamika kelompok dapat diartikan melalui asal katanya, yaitu dinamika dan kelompok.

§ Pengertian Dinamika

Dinamika berarti tingkah laku warga yang satu secara langsung mempengaruhi warga yang lain secara timbale balik.. Jadi, dinamika berarti adanya interaksi dan interdependensi antara anggota kelompok yang satu dengan anggota kelompok yang lain secara timbale balik dan antara anggota dengan kelompok secara keseluruhan.

§ Pengertian Kelompok

o Menurut W.Y.H Sprott memberikan pengertian kelompok sebagai beberapa orang yang bergaul satu dengan yang lain.

o Kurt Lewin berpendapat bahwa The essence of a group is not the similarity or dissimilarity of its members but their independence.

o H. Smith menguraikan kelompok adalah suatu unit yang terdapat beberapa individu yang mempunyai kemampuan untuk berbuat dengan kesatuannya dengan cara dan atas dasar kesatuan persepsi.

ü Tujuan Kelompok

Johnson dan johnson menjelaskan bahwa suatu tujuan kelompok yang efektif harus memiliki aspek-aspek sebagai berikut:

1. Tujuan tersebut dapat didefinisikan secara operasional, dapat diukur dan diamati.

2. Tujuan tersebut mempunyai makna bagi anggota kelompok, relevan, realistik, dapat diterima dan dapat dicapai.

3. Anggota-anggota kelompok mempunyai orientasi terhadap tujuan yang telah ditetapkan.

4. Adanya keseimbangan tugas-tugas dan aktivitas-aktivitas dalam mencapai tujuan individu dan tujuan kelompok.

5. Terjadinya konflik yang berkaitan dengan tujuan dan tugas-tugas kelompok dapat diselesaikan dengan baik.

6. Tujuan tersebut bersifat menarik dan menantang serta mempunyai resiko kegagalan yang kecil dalam mencapainya.

7. Tercapainya tingkat koordinasi diantara anggota-anggota.

8. Tersedianya sumber-sumber yang di perlukan untuk melaksanakan tugas-tugas dan tujuan-tujuan kelompok.

9. Adanya kemudahan untuk menjelaskan dan mengubah tujuan kelompok.

10. Berapa lama waktu yang diperlukan oleh suatu kelompok untuk mencapai tujuan kelompok (Carolina Nitimihardjo dan Jusman Iskandar, 1993:43-44)

ü Ciri-ciri Kelompok

1. Adanya Motif yang Sama

Kelompok sosial terbentuk karena anggota-anggotanya mempunyai motif yang sama untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam kehidupan kelompok akan muncul motif baru sehingga timbul sense of belonging (rasa menyatu di dalam kelompok) pada tiap-tiap anggota.

2. Adanya Sikap In-Group dan Out-Group

Jika ada sekelompok manusia mempunyai tugas yang sulit mereka akan menunjukan tingkah laku yang khusus. Apabila orang lain di luar kelompok itu bertingkah laku seperti mereka, mereka akan menyingkirkan diri. Sikap itu disebut sikap out group atau sikap terhadap orang luar. Orang luar tersebut harus membuktikan kesediaannya berkorban bersama dan kesetiakawanannya baru kemudian diterima dalam kegiatan kelompok. Sikap itu disebut sikap in group atau sikap terhadap orang dalam.

3. Adanya Solidaritas

Merupakan kesetiakawanan tiap anggota kelompok sosial. Solidaritas yang tinggi dalam kelompok tergantung kepada kepercayaan tiap anggota akan kemampuan anggota lain dalam melaksanakan tugas yang baik. Makin tinggi solidariitas kelompok maka makin tinggi pula sense of belonging.

4. Adanya Struktur Kelompok

Struktur kelompok adalah suatu sistem mengenai relasi antara anggota-anggota kelompok berdasarkan peranan dan status mereka serta sumbangan masing-masing dalam interaksi kelompok untuk mencapai suatu tujuan tertentu.

Di dalam struktur kelompok kita jumpai:

a. Susunan kedudukan fungsional: susunan berdasaekan tugas anggota-anggota kelompok dalam kerja sama mencapai tujuan.

b. Susunan hierarkis antara anggota kelompok dengan harapan tugas dan kewajiban yang diserahkan kepada anggota-anggota itu dapat diselesaikan dengan wajar.

5. Adanya Norma Kelompok

Yang dimaksud norma kelompok di sini adalah pedoman yang mengatur tingkahlaku individu dalam suatu kelompok.

Jumat, 30 September 2011

Sumpek bgt hari ni...
Sedari malem Q dah ngrencanain kgiatan bwt hr ini, mlah smuanya brntakan ga karuan... Hufth,, dari awal udah brntkan... Mpe sore bgni, rncnaQ jd bnyak yg gagal,, sumpek campur sebel...

Klo udah bgini jd malez ngpa2in... Ga minat ngapa2in... T T
yg Q dpet hr ini cuma sumpek, pegel, kesel jg... Mana mreka jg ga bsa baca suasana lg... Aaaaargh...!!

Sabtu, 24 September 2011

TEKNOLOGI SEBAGAI DETERMINAN PERUBAHAN SOSIAL

A. PERSPEKTIF MATERIALITIS: PENGARUH TEKNOLOGI TERHADAP PERUBAHAN

1. Thorstein Veblen (1857-1929):

- Tatanan masyarakat sangat ditentukan oleh teknologi.

- Perilaku Manusia mencerminkan faktor teknologi dan ekonomi.

Contoh:

Masyarakat Pra Industri --> Masyarakat Industri


Pra Industri: 1. Masyarakat Berburu dan Meramu

2. Masyarakat Hortikultura Sederhana

3. Masyarakat Hortikultura Intensif

4. Masyarakat Agraris

5. Masyarakat Pastoralisme

Evolusi Teknologi --> kehidupan ekonomi masyarakat

Masyarakat Berburu dan Meramu

Teknologi Subsisten --> Ekonomi Familistik

--> Struktur sederhana (peran dan tanggung jwb berdasarkan

usia dan jenis kelamin)

--> Tidak ada surplus ekonomi

--> Tidak ada kepemilikan material yang melimpah ruah

2. WF. Ogburn (1886-1959):

- Penciptaan dan penemuan baru merupakan variabel yang bergerak cepat daripada variabel lainnya, sehingga dalam masyarakat bisa muncul "ketinggalan kebudayaan" dan "ketidakmampuan menyesuaikan diri" sehingga berakibat bagi kualitas hidup manusia.

Contoh:

ukuran keluarga dan doktrin agama

Bagaimana Cara Teknologi Menyebabkan Perubahan

1. Inovasi di bidang transportasi (KA) --> berpengaruh pada migrasi dari desa ke kota yang menyebabkan pemisahan jarak fisik --> pemisahan sosial dan psikologis --> perubahan dalam kehidupan keluarga

2. Kemajuan transportasi --> tingginya mobilitas sosial

3. Penemuan sistem irigasi --> terbentuknya desa-desa baru (suku Madagaskar).

4. Penemuan TV --> perilaku anti sosial.

5. Teknologi otomasi (di pabrik) mengubah pola-pola interaksi manusia --> pekerja terpisah secara sosial menurut jalur produksi yang diotomasikan.

contoh lain:

Robin dan Kilbride (1972) menemukan bahwa mikroteknologi (radio, sepeda, jam dinding, alat kontrasepsi mempengaruhi a.l:

1) Ekonomi menjadi semakin efisien, baik dilihat dari sudut produksi maupun distribusi dan terciptanya aspirasi mengenai konsumsi baru; 2) Aktivitas komunitas meningkat dalam jumlah maupun lamanya; 3) Timbulnya kadar identitas baru bagi individu.

B. DAMPAK ITC BAGI PERUBAHAN SOSIAL: KONTEKS TEORI

- Bagi Durkheimians, media komunikasi seperti telepon memperkuat solidaritas organik, sementara media penyiaran seperti radio atau televisi menghasilkan representasi kolektif yang kuat (Alexander 1988).

- Pengikut Marxis fokus pada eksploitasi media komunikasi untuk memperkuat kontrol elit terhadap politik dan produksi melalui hegemoni budaya sekaligus memperkuat pemeriksaan (Schiffer 1996, Davis, dkk., 1997).

- Weberian sendiri menghadirkan cara dimana media poin-ke-poin mengajukan rasionalisasi dengan mengurangi batasan waktu dan ruang, sementara media penyiaran menyediakan elemen status budaya yang berbeda (Collins 1979). Tradisi Weberian membangkitkan pertanyaan mengenai dampak dari teknologi internet pada birokrasi dan lembaga ekonomi.

- Pakar-pakar teori kritik mempersoalkan dampak dari perubahan teknologi pada bidang politik dan integritas masyarakat madani (Habermas 1989; Balhoun 1998). Karya Habermas dan Balhoun mengarahkan kita untuk menanyakan bagaimana internet bisa mengubah praktek politik. Teori kritik juga melontarkan pertanyaan penting tentang bagaimana internet bisa mempengaruhi seni dan media hiburan.

- Daniel Bell (1977) sebagai ahli sosiologi pertama yang menulis mengenai dampak sosial dari media komunikasi digital ini. Bell memperkirakan bahwa konsekuensi sosial besar akan berasal dari dua perkembangan terkait, yakni penemuan miniatur sirkuit elektronik dan optikal yang mampu mempercepat arus informasi melalui jaringan, serta integrasi dari proses komputer dan telekomunikasi kedalam apa yang disebut oleh Anthony Oettinger dari Harvard sebagai teknologi “kompunikasi”. Dengan mengantisipasi demokratisasi surat elekktronik dan telefaks, sekaligus penyiaran digital dari suratkabar dan majalah, Bell mengeksplorasi dilema kebijakan perubahan tersebut yang nanti muncul, yang disebut dengan “organisasi sosial dari teknologi ‘kompunikasi’ baru”, yang merupakan isu utama “bagi masyarakat pascaindustri” (1977: 38).

- Manuel Castells berpendapat bahwa dunia sedang memasuki “jaman informasi” dimana teknologi informasi digital “menyediakan dasar materi” untuk “perluasan pervasif” dari apa yang ia sebut “bentuk jejaring dari organisasi” dalam setiap keadaan struktur sosial (1996:468).

C. TEMUAN-TEMUAN TENTANG DAMPAK ITC (INTERNET)

I. DAMPAK ISOLASI SOSIAL ATAU PEMBENTUKAN MODAL SOSIAL?

a. PERTENTANGAN-PERTENTANGAN TEMUAN

- Dampak efisiensi waktu vs anti sosial

--> Internet akan sangat efisiien didalam membuat orang menjadi lebih produktif dan memperkuat mereka menghindari masalah transportasi yang tak perlu ketika menyelesaikan tugas-tugas online seperti dalam masalah perbankan, belanja, riset perpustakaan, bahkan sosialisasi online. Hasilnya (berkurangnya stres, lebih banyak waktu, kontak online baru) akan membuat individu lebih terpenuhi dan m embangun modal sosial bagi masyarakat secara keseluruhan.

- Dampak Anomi & pengikisan modal sosial vs keaktifan dalam kegiatan riil

--> Namun kajian terbaru, dua studi menyebutkan bahwa internet bisa memicu anomik dan mengikis modal sosial dengan mendukung para pengguna untuk keluar dari dunia artifisial (Kraut dkk., 1998; Nie & Erbring 2000).

--> Analisa tahun 1995 dan survei nasional 1998 oleh Pew Center for the People and the Press, yang menanyai responden tentang aktifitas “hari kemarin” menemukan penggunaan internet menjadi tak berkaitan atau secara positif berhubungan dengan interaksi sosial (Robinso dkk., 1997, 2000a).

--> Lebih jauh lagi, analisa terhadap data tahun 1997 dari Federal Survey of Public Participation in the Arts menunjukan bahwa pengguna internet (dengan pengendalian) membaca lebih banyak literatur, lebih banyak menghadapi acara seni, lebih banyak menonton film, dan menonton serta melakukan lebih banyak olahraga daripada non-pengguna (Robinson & Kestnbaum 1999).

--> Studi terbaru yang didasarkan pada data Pew Center 1998 menunjukan perubahan terkait dengan difusi internet. Dikalangan pengguna yang telah menjadi pengadopsi awal, penggunaan internet adalah berhubungan dengan penggunaan besar terhadap media cetak. Namun demikian, dikalangan pemakai baru internet, hubungan ini hilang (Robinson dkk., 2000b). Tak ada penurunan signifikan pada menonton TV yang ditemukan setelah pengendalian demografik. Secara keseluruhan, analisa tersebut menyediakan dukungan untuk penyingkiran waktu dikarenakan ekuivalensi fungsional dengan melihat pada media lain (Lihat juga Cole 2000, yang menjumpai penggunaan TV lebih rendah dikalangan pengguna internet tapi sedikit lebih tinggi untuk media lainnya).

- Dampak isolasi sosial vs penurunan stres

--> Dua studi yang telah dipublikasikan melaporkan adanya indikasi bahwa penggunaan internet telah menggantikan interaksi lainnya. Kraut dkk., (1998), yang memanfaatkan disain longitudinal langka untuk mempelajari 169 keluarga diwilayah Pittsburgh yang memiliki komputer dan koneksi internet lebih dari dua tahun, melaporkan bahwa tingkat tertinggi dari penggunaan internet adalah “terkait dengan penurunan dalam komunikasi bersama anggota keluarga lain, penurunan dalam lingkaran sosial, dan semakin meningkatnya rasa sepi dan depresi.” Para penulis mengatakan bahwa pemakai berat mengganti interaksi dengan ikatan lemah di internet untuk waktu yang dihabiskan bersama teman dekat dan keluarga.

--> Meski ketika peneliti mengikuti sampelnya, mereka menemukan bahwa, kecuali untuk stres yang meningkat, dampak psikologikal negatif berkurang dan hasil akhir yang positif muncul. Mereka menyebut perubahan meningkatkan pengalaman dan kompetensi serta lebih spekulatif, meningkatkan manfaat terbesar internet dalam periode akhir serta mengubah tanda dari jaringan eksternalitas negatif ke positif sebagaiman teman dan keluarga pengguna ber-online (Kraut dkk).

- Dampak penurunan sosialisasi vs peningkatan jaringan sosial

--> Nie & Erbring (2000) telah melakukan survei terhadap empat ribu pengguna internet online dan menanyakan bagaimana internet mengubah kehidupan mereka. Sebagian besar melaporkan tidak ada perubahan, tapi pada pemakai berat dilaporkan adanya penurunan dalam sosialisasi, pemakaian media, belanja dan aktifitas lainnya.

---> Survei terbaru (online dan off) mengungkapkan bahwa pemakai internet mempunyai tingkat kepercayaan umum lebih tinggi dan jaringan sosial lebih besar daripada non-pemakai (Uslaner 1999; Robinson dkk., 200b; Hampton & Wellman 2000; Cole 2000). Hasil dari analisa survei juga menyebutkan bahwa penggunaan internet bertindak melengkapi daripada mengganti media cetak dan sosialisasi offline.

--> Memang, studi diari waktu yang lengkap juga menemukan bahwa pengguna internet menjadi kurang aktif sebagai pengguna media atau mahluk sosial offline daripada non-pengguna, meski mereka memang kurang mengerjakan rumah tangga, kurang mengabdikan waktu untuk keluarga dan kurang tidur pula (Robinson dkk., 2000b).

- Dampak penurunan pembentukan komunitas riil vs peningkatan modal sosial

--> Wellman (2001) berpendapat bahwa internet ikut menyebabkan perubahan dari masyarakat berbasis kelompok ke masyarakat berbasis jaringan yang menguraikan masyarakat dan geografi sehingga membutuhkan pemahaman baru dan operasionalisasi dari yang sebelumnya. Sejalan dengan pengertian ini, Katz dkk., melaporkan bahwa pengguna internet mengunjungi teman lebih banyak dan berbicara dengan mereka melalui telepon lebih sering, tetapi mereka juga mengadakan perjalanan lebih banyak dan mempunyai teman lebih sedikit dilingkungan tetangga.

-->Lin (2001) menganggap komunikasi online, termasuk email, memperluas tersedianya modal sosial. Memang, banyak literatur menyebutkan bahwa internet memperkuat ikatan sosial yang didefinisikan kedalam banyak cara, kerap dengan memperkuat pola perilaku yang ada. Sebuah laporan tentang survei nasional terhadap pemakai (Howard dkk.) menyebutkan bahwa internet membuat pemakai berada dalam kontak yang lebih sering bersama keluarga dan teman, dengan email menjadi alat komunikasi utama.

--> Studi longitudinal oleh Kraut dkk menemukan bahwa penggunaan internet meningkatkan interaksi bersama anggota keluarga dan dilaporkan adanya kedekatan bersama teman, khususnya bagi penggua yang merasakan jaringan pendukung sosial yang kuat sebelum mereka mulai memakai internet.

--> Internet adalah unik diantara media karena membuat mudah orang berkomunikasi (jarak jauh) bersama orang lain pada waktu yang bersamaan seperti dalam chat room atau forum diskusi online. “Komunitas online” bentuk dan ukurannya berbeda-beda, mulai dari komunitas virtual yang menghubungkan orang yang jauh secara geografi untuk berbagi kepentingan bersama sampai pengaturan dimana mempermudah interaksi dikalangan jaringan pertemanan atau anggota keluarga hingga jaringan komunitas yang fokus pada isu-isu yang relevan dengan lingkungan tetangga secara geografi (Smith & Kollock 1999; Wellman & Gulia 1999; Preece 2000).

b. TEMUAN-TEMUAN PENDUKUNG

Dampak pembentukan komunitas baru & identitas

--> Game permainan-peran online yaitu, multi-user dungeons atau MUD (Turkle 1995) memberi kontribusi pembentukan newsgroups (Hauben & Hauben 1997). Ini merupakan komunitas online pertama dan masih menjadi situs riset popular, Melalui penelitian “Etnografi online” telah didapatkan pemahaman tentang persoalan pembentukan identitas (Paecagnella 1997) serta status. (dalam penelitian ini, para periset harus mengikuti pengguna masuk kedalam jenis komunitas online yang lebih baru yang didasarkan pada kepentingan bersama atau jaringan komunitas fisik).

--> Jumlah studi kasus komunitas online adalah banyak dan terus tumbuh. Para peserta menilai pengaturan online tersebut mempermudah (dan murah) untuk berkomunikasi dalam jarak jauh, dengan menyediakan peluang untuk ikut serta sekaligus memperkuat orang dengan kepentingan minoritas atau gaya hidup menemukan persahabatan dan bimbingan yang sebelumnya tak tersedia dalam komunitas lingkungan mereka (Etzioni & Etzioni 1997). Studi klasik Rheingold (1993) tentang komunitas online menekankan pada kapasitas jaringan online untuk menyediakan kepada anggota mereka dengan dukungan sosial. Dan periset lain telah mencatat bahwa, bila dibandingkan dengan jaringan sosial kehidupan-nyata, komunitas online lebih sering didasarkan pada kepentingan bersama dari peserta bukan karakteristik demografi bersama (Wellman & Gulia 1999).

--> Namun demikian, isu yang berhubungan dengan ras, gender dan dinamika seksual memang menembus dan membuat rumit interaksi online (misalnya meminta komunitas agar membuat norma-norma ketika berhubungan dengan bahasa intimidasi atau ofensif (Lessig 1999; Silver 2000).

Dampak interaksi online terhadap interaksi tatap muka

-->Hampton & Wellman (2000) mengungkap bahwa pengguna internet mempertahankan ikatan komunitas melalui komunikasi mediasi-komputer dan interaksi tatap muka langsung. Meski mereka mempertahankan hubungan jarak jauh daripada non-pemakai internet, mereka berkomunikasi bahkan dengan tetangganya – dan bahkan tiga kali lebih banyak daripada tetangganya. Studi terhadap komunitas yang sama mengungkapkan bahwa para penghuni banyak memanfaatkan internet untuk “aktifitas pembentukan modal-sosial” namun tingkat keterlibatan dan keterkaitan komunitas tingkat-individu itu meningkat hanya untuk penghuni yang sangat aktif (Kavanaugh & Pattrson). Studi serupa mengemukakan bahwa walau internet membantu mempertahankan kontak jarak jauh, banyak kontak email yang terjadi adalah antar orang yang juga mengadakan kontak tatap muka langsung (Koku dkk., 2001). Dengan kata lain, riset menyebutkan bahwa internet melanjutkan ikatan komunitas dengan melengkapi, bukan menggantikan, saluran interaksi lainnya.

Dampak penciptaan Modal Sosial

-->Banyak kajian percaya bahwa internet mempermudah penciptaan modal sosial dan barang publik lainnya dengan membuat arus informasi menjadi lebih efisien melalui komunitas residensial atau profesional (Lin 2001; Wellman, 2001). Namun Putnam (2000) melaporkan bahwa, setelah pengendalian demografi, pemakai internet tidaklah berbeda dengan non-pemakai dalam hal tindakan keterlibatan sipil. Namun demikian, ia mencatat bahwa adalah terlalu dini memproyeksikan hasil ini kedalam rekan pemakai internet dimasa mendatang, dan ia merasakan adanya kontribusi internet untuk modal sosial ditingkat komunitas. Putnam sangat perhatian pada perlunya memahami perbedaan kualitatif antara interaksi termediasi dan tatap muka langsung serta mengeksplorasi ketegangan antara potensi teknologi dan bahaya tidak samanya akses maupun “cyberbalkanisasi” (Putnam 200-:177); untuk operasionalisasi, lihat Van Alstyne & Brynjolfsson 1997).

-->Studi lain memperlihatkan bahwa, dibawah keadaan tertentu, penggunaan internet dapat memperkuat modal sosial. Dalam studi longitudinal terhadap penghuni Pittsburgh, Kraut dkk., menjumpai bahwa penggunaan internet terkait dengan partisipasi besar dalam aktifitas komunitas dan kepercayaan yang lebih tinggi (meski sedikit komitmen dalam komunitas mereka), dengan dampak positif lebih besar bagi peserta yang ekstrovert. Analisa terhadap responden survei online dari Amerika Serikat, Inggris Raya, Kanada, dan Australia mengemukakan bahwa penggunaan internet yang semakin meningkat cenderung mempunyai dampak positifi langsung pada modal sosial (dioperasionalisasikan sebagai partisipasi dalam jaringan dan aktifitas komunitas) serta dampak positif tak langsung (melalui modal sosial) pada partisipasi politik (Gibson dkk., 2000).

-->Ada pula pendapat bahwa internet membentuk modal sosial dengan memperkuat efektifitas serikat sukarela tingkat komunitas, namun sedikit riset yang telah mengevaluasi klaim ini. Internet juga diterangkan sebagai alat murah dan efektif untuk mengadakan gerakan sosial oposisi. Lin (2001) menjelaskan kasus organisasi Falun Gong China, yang memanfaatkan internet untuk melancarkan gerakan hirarki keagamaan yang kuat dibawah hidung rejim yang berkuasa. Baik apakah gerakan yang sama akan mengikuti atau tidak akan tergantung pada keberhasilan negara didalam memantau dan mengendalikan aktifitas tersebut.

MASYARAKAT INFORMASI: DEFINISI, PERKEMBANGAN KONSEP SERTA POSISINYA DALAM TEORI ILMU SOSIAL

DEFINISI

Masyarakat Informasi adalah sebuah konsep luas yang mulai digunakan sejak tahun 1970-an untuk merujuk pada berbagai perubahan sosial dan ekonomi yang terkait dengan meningkatnya dampak dan peran teknologi informasi. Konsep ini menonjolkan peran yang dimainkan oleh teknologi informasi tersebut dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari tempat kerja, perjalanan dan sarana hiburan yang tersedia.

Masyarakat Informasi oleh banyak negara maju (sejak tahun 1970-an) juga diartikan sebagai suatu bentuk kehidupan yang akan dituju dan diraih (bukan terjadi dengan sendirinya). Di Jepang, negara-negara Eropa dan Amerika misalnya, masyarakat informasi dipromosikan sebagai suatu visi abad 21 yang oleh para pembuat kebijakan digunakan sebagai pedoman dalam mengembangkan sektor informasi pada perekonomian tingkat lokal, regional dan nasional. Pada tahun 1990-an, Amerika Serikat dan negara-negara maju lainnya mulai meluncurkan program pengembangan infrastruktur informasi modern atau apa yang disebut sebagai "information super highway". yang sebenarnya dilandasi pada visi tersebut.

PERKEMBANGAN KONSEP MASYARAKAT INFORMASI

1. MASYARAKAT PASCA INDUSTRI: DANIEL BELL

Konsep Masyarakat Informasi sebenarnya dikembangkan oleh sosiolog Amerika Daniel Bell (1974), yang berfokus pada prediksinya akan adanya "Masyarakat Pasca Industri". Bell, ketika itu melihat informasi sebagai input teknologi informasi merupakan kekuatan utama pada masa seusai Perang Dunia Kedua, sedangkan bahan-bahan mentah (sumber daya alam) merupakan kekuatan utama bagi masyarakat agraris, mesin/teknologi menjadi energi dalam masyarakat industri (yang merupakan bentuk-bentuk masyarakat sebelum masyarakat industri)

Bell mengidentifikai berbagai kecenderungan yang meninjol dalam masyarakat pasca industri, dengan fokus Amerika Serikat sebagai contoh kasusnya. Kecenderungan utama yang mengiringi proses terbentuknya masyarakat pasca industri meliputi pesatnya berbagai jenis lapangan kerja yang berhubungan dengan informasi, meningkatnya bisnis dan industri dengan produksi, transmisi dan analisis informasi, serta meningkatnya sentralitas peran para teknolog, yaitu para manajer dan profesional terdidik yang memiliki keahlian khusus dalam mengolah dan memanfaatkan informasi untuk keperluan pembuatan keputusan.

Kecenderungan terpenting adalah bergesernya sebagian besar angkatan kerja dari sektor pertanian (sektor primer) dan manufaktur (sektor sekunder ke sektor-sektor jasa (sektor tersier). Pengembangan lapangan kerja informasi, khususnya yang bersifat kerah putih ikut menopang pesatnya pertumbuhan sektor-sektor jasa tersebut. Pekerjaan informasi itu sendiri sangat beragam, mulai dari pemrograman dan pembuatan perangkat lunak komputer hingga ke pengajaran dan penelitian berbagai hal yang berkaitan. Industri-industri informasi seperti penyedia jaringan data, dan jasa-jasa komunikasi termasuk di dalamnya dan semua itu membuat pekerjaan informasi sebagai pilar perekonomian, di mana sebelumnya sektor pertanian dan manufaktur yang semula dominan. Dalam hal ini, bergesernya jenis-jenis pekerjaan dalam masyarakat informasi ini tidak harus diartikan bahwa sektor primer dan sekunder telah merosot terutama bagi erekonomian nasional dan perekonomian global. Yang perlu dicermati adalah telah terjadi berkurangnya kebutuhan ketenaga kerjaan bagi sektor-sektor tersebut, karena sebagian aspeknya telah ditopang oleh berbagai teknik manajemen komputasi dan telekomunikasi dalam meredesain setiap prosedur pelaksanaan pekerjaan dalam sektor-sektor tadi.

Kecenderungan yang kedua yang mengiringi munculnya masyarakat pasca industri adalah meningkatnya arti penting pengetahuan termasuk pengetahuan teoritis dan metodologis serta kodifikasinya yang menjelma dalam manajemen institusi-institusi sosial dan ekonomi. Dalam masyarakat pasca industri yang terpenting adalah penyusunan prediksi, perencanaan dan pengelolaan organisasi. Lebih jauh menurut Bell, kompleksitas dan besarnya skala sistem-sistem sosial dan ekonomi menuntut adanya perencanaan dan peramalan sistematik yang lebih baik yang tidak bisa lagi diperoleh dari survei dan eksperimen biasa.

Kecenderungan yang ketiga adalah bergesernya kekuasaan, di mana kalangan profesional dan kelas manajerial (para pekerja pengetahuan) kian dominan. Mereka adalah individu-individu yang memahami bagaimana bekerja dengan pengetahuan, sistem-sistem informasi, simulasi dan berbagai teknik analitis yang terkait. Posisi mereka akan semakin vital dalam proses pembuatan keputusan.

2. NETWORK SOCIETY (MASYARAKAT JARINGAN): MANUEL CASTELLS

Salah satu kontribusi terbaru untuk teori sosial modern adalah sebuah trilogi yang ditulis oleh Manuel Castells (1996, 1997, 1998) dengan judul Information Age: Economy, Society and Culture, Castell mengutarakan pandangannya tentang kemunculan masyarakat, kultur dan ekonomi yang baru dari sudut pandang revolusi teknologi informasi (televisi, komputer dsbnya).

Revolusi yang dimulai di Amerika pada tahun 1970an ini mengakibatkan restrukturisasi fundamental terhadap sistem kapitalis yang memunculkan apa yang disebut oleh Castells sebagai “kapitalisme informasional”. Yang memunculkan istilah "Masyarakat Informasi". Munculnya kapitalisme informasional dan masyarakat informasi ini didasarkan pada "informasionalisme" (sumber utama produksi terletak pada kapasitas dalam penggunaan dan pengoptimalan faktor produksi berdasarkan informasi dan pengetahuan).

Kemunculan 2 fenomena tersebut didasarkan pada “informasionalisme” yaitu sebuah mode perkembangan di mana sumber utama produktivitas terletak pada optimalisasi kombinasi penggunaan faktor-faktor produksi berbasis pengetahuan dan informasi.

Dalam analisisnya, Castell memberikan pemikirannya tentang paradigma teknologi informasi dengan 5 karakteristik dasar:

  1. Teknologi informasi bereaksi terhadap informasi
  2. Karena informasi adalah bagian dari aktivitas manusia, maka teknologi ini mempunyai efek pervasif.
  3. Semua sistem yang menggunakan teknologi informasi didefinisikan oleh “logika jaringan”.
  4. Teknologi baru sangatlah fleksibel, bisa beradaptasi.
  5. Teknologi informasi sangatlah spesifik, dengan adanya informasi maka bisa terpadu dengan suatu sistem yang terintegrasi.

Pada tahun 1980an muncul ekonomi informasional global baru yang semakin menguntungkan dan ekonomi ini bersifat informasional karena produktivitas dan daya saing dari unit-unit dan agen-agen dalam ekonomi ini secara mendasar tergantung pada kapasitas mereka untuk menghasilkan, memproses dan mengaplikasikan pengetahuan dan informasi secara efisien.

Ekonomi ini bersifat menglobal karena mempunyai kapasitas untuk bekerja sebagai unit secara real time pada skala dunia (planetary). Dan semua ini terjadi karena adanya teknologi komunikasi dan informasi.

Fungsi-fungsi dan proses dominan pada jaman informasi semakin terorganisir dalam "jaringan" yang didefinisikan sebagai serangkaian "simpul yang terkait satu sama lain". jaringan tersebut bersifat terbuka, mampu melakukan ekspansi tanpa batas, dinamis dan mampu berinovasi tanpa merusak sistem. Dengan "jaringan" ini, telah memungkinkan kapitalisme dapat mengglobal dan terorganisir berdasarkan aliran keuangan global.

Mengiringi bangkitnya ekonomi informasional global ini muncullah bentuk organisasional baru yaitu perusahaan jaringan (network enterprise). Yang dimaksud perusahaan jaringan adalah bentuk spesifik perusahaan yang sistem sarananya dibangun dari titik temu sejumlah segmen sistem tujuan otonom. Perusahaan jaringan ini adalah perwujudan dari kultur ekonomi informasional global yang memungkinkan transformasi tanda-tanda ke komoditas.

Berseiring dengan tumbuhnya masyarakat informasional, muncul pula perkembangan kebudayaan virtual riil, yaitu satu sistem di mana realitas itu sendiri sepenuhnya tercakup dan sepenuhnya masuk ke dalam setting citra maya, di dunia fantasi, yang di dalamnya tampilan tidak hanya ada di tempat dikomunikasikannya pengalaman. Dunia memasuki era masa tanpa waktu, di mana masyarakat menjadi didominasi oleh proses daripada lokasi fisik. Dalam kaitan ini, kita memasuki era "masa tanpa waktu" yang di dalamnya (sebagai contoh, informasi segera tersedia di manapun di muka bumi ini)

MASYARAKAT INFORMASI DALAM KONSTELASI PERKEMBANGAN TEORI SOSIAL

Munculnya gagasan tentang Masyarakat Informasi (oleh Castells disebut sebagai Network Society/Masyarakat jaringan) dalam peta perkembangan Teori Sosial terletak pada peralihan dari Teori Sosial Modern ke Teori PostModern, yang disebut dengan Teori Modernitas Kontemporer

Sebelum munculnya gagasan tentang Masyarakat Informasi, terbangun teori-teori Modernitas Kontemporer lainnya: Modernitas dari Anthony Giddens, Ulrich Beck, George Ritzer, Zygmunt Bauman, Jurgen Habermas, yang semuanya diantaranya terkait dengan ide tentang Globalisasi.

Giddens melihat modernitas sebagai Juggernaut yang menawarkan sejumlah keuntungan namun juga sejumlah bahaya.

Beck menawarkan bahaya-bahaya dalam masayarakat modern yaitu berupa Masyarakat Risiko.

Ritzer melihat rasionalitas sebagai ciri utama masyarakat kontemporer dengan konsep McDonalisasi.

Bauman menaawarkan konsep Holocaust yang mengindikasikan irasionalitas.

Habermas memusatkan perhatiannya pada rasionalitas sistem dan keterbelakangan rasionalitas dunia kehidupan.

Castells dengan karyanya yang membahas tentang pertumbuhan informasionalisme dan masyarakat jaringan

Sumber Pustaka:

Castells, Manuel. 2000. The Rise of The Network Society. Victoria, Australia: Blackwell Publishing

Castells, Manuel. 2001. “The Information City, The New Economy and the Network Society”, dalam: Webster, Frank, 2006. The Information Society Reader. New York: Routledge.

Kuper, Adam & Kuper Jessica. 2000, Ensiklopedi Ilmu-Ilmu Sosial. Jakarta: Raja Grafindo Persada

Ritzer, George & Douglas J. Goodman. 2008. Teori Sosiologi, Dari Teori Sosiologi Klasik Sampai Perkembangan Mutakhir Teori Sosial Modern. Yogyakarta: Kreasi Wacana.

Waters, Malcolm. 1996. Daniel Bell (Key Sociologists), New York: Routledge.

*didapat dari materi kuliah ^_^